Waspadalah!

by dalimun

Salah satu ciri investor yang baik adalah bisa mencintai uangnya sendiri. Lain halnya dengan calon investor ulung, konon ia justru lebih mencintai uang orang lain.

Guyonan macam begitu lazim beredar di kalangan investor yang sekarang ini rasa-rasanya tak kekurangan cara untuk membikin duitnya bertambah, berlipat-lipat.

Zaman sekarang peluang investasi sungguh banyak. Mulai dari kelas receh sampai uang berkarung-karung. Mau pilih apa?

Pasar modal, pasar uang, pasar komoditas, surat berharga, deposito, emas, serta sederet peluang lainnya tersedia dan ‘tinggal hlep’ kalau ada modal.

Aneka skema investasi baru juga terus bermunculan dan tak tanggung-tanggung, banyak yang menjanjikan untung besar dalam sekejap.

Sayangnya, sebagian di antaranya tak punya stempel regulator alias ilegal alias bodong. Beragam skema baru itu tak lebih dari sekadar kreativitas penciptanya yang serampangan.

Mengincar investor yang grusa-grusu. Termasuk investor ‘pemula’ yang sedang gemes-gemesnya.

Menurut mereka, yang penting setor duit, maka pastilah untung besar, sebesar dinosaurus bengkak, sesuai iming-iming.

Sebaliknya, mereka enggan melihat lebih jelas legalitas dan risiko yang sewaktu-waktu bisa menerkam. Investor model beginilah yang menjadi sasaran empuk oknum untuk menawarkan investasi ilegal.

Bermodal selebaran berisi angka-angka ruwet dan kadang mbulet, seringpula dibumbui tampilan kesalehan, mereka menggoda manusia lainnya.

Apesnya, sebagian mereka yang tergoda justru tak merasa. Bahkan mati-matian membela saat ‘almamaternya’ hendak ditertibkan regulator, dalam hal ini Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Alasannya tentu saja karena merasa belum rugi, malah untung. OJK pastilah pihak yang paling risih dengan maraknya investasi bodong. Pasalnya, sesuai dengan amanat Undang-Undang No. 21/2011, OJK harus melindungi kepentingan serta mencegah timbulnya kerugian konsumen dan masyarakat dari penawaran investasi yang tidak memiliki legalitas jelas.

OJK tentu tidak bertindak berdasarkan hasil penerawangan atau ilmu kebatinan karena semua dilandasi data.

Sejak layanan Financial Customer Care (FCC) beroperasi pada 2013 sampai dengan 2016, otoritas telah menerima 801 informasi dan pertanyaan dari masyarakat mengenai 484 entitas yang diduga melakukan kegiatan investasi yang tidak jelas aspek legalitasnya serta tidak berada di bawah pengawasan OJK.

Sebanyak 217 entitas di antaranya dapat ditindaklanjuti melalui pengamatan bertahap di lapangan, sedangkan 267 entitas tidak dapat ditindaklanjuti karena terbatasnya informasi.

Perang melawan praktik investasi ilegal juga terus diperluas ke daerah dengan dibentuknya Satuan Tugas Waspada Investasi hasil kerja sama OJK, dan sejumlah pemangku kepentingan.

Sampai Desember 2016 setidaknya telah terbentuk 38 tim kerja Satgas Waspada Investasi yang berlokasi di 35 kantor regional maupun kantor OJK serta tiga tim kerja.

Tulisan ini tentu bukanlah untuk memuji OJK setinggi langit, karena melindungi konsumen pengguna layanan jasa keuangan memang sudah menjadi tugas lembaga ini.

Justru ini sebagai pengingat bahwa masih banyak kisah horor investasi bodong di luar sana yang gentayangan menghantui masyarakat.

Berbagai langkah positif yang telah ditempuh regulator harus konsisten dijalankan, sembari memutar otak untuk menelurkan solusi lainnya agar tidak ada lagi orang yang dirugikan investasi bodong. Jangan pernah malas, jangan pernah culas.

Sebaliknya, masyarakat juga selayakny a menyadari bahwa diri sendiri adalah benteng terluar yang harus terus dibangun, dengan pemahaman, dengan kewaspadaan. Waspadalah!

Tulisan ini terbit di Harian Bisnis Indonesia Edisi 17 Februari 2017

Advertisements