Langkah Besar

by dalimun

Godril adalah salah satu camilan favorit saya semasa kecil dulu. Biji pohon trembesi itu banyak yang jatuh berserakan tak jauh dari masjid kampung.

Menjelang asar, bersama teman-teman, saya sering memungutnya. Dikupas polongnya lantas digoreng kering untuk dimakan beramai-ramai. Rasanya sungguh gurih, tak kalah dari kuaci bunga matahari yang dijual di warung dekat sekolah.

Guru-guru saya dulu juga sering menggunakan godril dan trembesi sebagai perumpamaan dalam mengajarkan kebijaksanaan. Menurut mereka, godril dan trembesi memberi contoh nyata bahwa sesuatu yang besar tidak selalu menghasilkan yang besar pula.

Pohon trembesi yang tumbuh besar dan menjulang, cuma punya polong kecil. Justru tanaman semangka yang kecil menjalar-jalar, ternyata berbuah besar-besar.

Sampai di sini, angan-angan saya justru tertuju pada salah satu fenomena di sektor keuangan Indonesia. Beragam langkah besar yang telah dilakukan pemerintah maupun regulator, ternyata belum sanggup mengatrol tingkat literasi dan inklusi keuangan.

Hasil survei nasional literasi keuangan pada 2013 menunjukkan tingkat inklusi dan literasi keuangan masyarakat masing-masing baru 59,7% dan 21,8% meski sudah banyak kebijakan diterapkan pemerintah.

Bahkan jika dibandingkan dengan negara tetangga, Indonesia masih tertinggal. Tingkat literasi keuangan di Filipina dan Malaysia konon sudah di atas 30%, sedangkan Singapura telah mencapai 98%.

Rencananya regulator bakal kembali mengumumkan hasil survei terbaru tingkat literasi dan inklusi keuangan pada Januari 2017. Kita tentu berharap hasilnya lebih baik, meski tidak bisa menjadi cerminan mutlak kondisi yang terjadi di masyarakat.

Banyak langkah besar yang telah dilakukan regulator untuk mengatrol inklusi dan literasi keuangan. Bank Indonesia meluncurkan Layanan Keuangan Digital (LKD) yang merupakan layanan jasa sistem pembayaran maupun keuangan terbatas yang dilakukan tidak melalui kantor fisik, melainkan melalui sarana teknologi dengan target masyarakat unbanked dan underbanked.

Adapun Otoritas Jasa Keuangan mendorong program Layanan Keuangan Tanpa Kantor dalam Rangka Keuangan Inklusif (Laku Pandai) untuk menyediakan produk keuangan yang sederhana, mudah dipahami, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang belum mampu menjangkau layanan keuangan.

Faktanya masih banyak kendala yang mengadang pelaksanaan program tersebut sehingga literasi dan inklusi keuangan belum meluas. Wilayah Indonesia yang luas membuat perluasan jangkauan tidak mudah dilakukan. Infrastruktur teknologi informasi yang menjadi tulang punggung program tersebut juga belum tersedia luas.

Tantangan lainnya ialah masih terbatasnya lembaga keuangan yang memiliki kualifikasi yang baik untuk menjalankan Laku Pandai. Sejauh ini belum semua bank pembangunan daerah sanggup menjalankan program itu. Padahal bank daerah digadang menjadi ujung tombak lantaran memiliki pemahaman dan pengalaman yang luas terhadap wilayah operasionalnya.

Dalam praktik di lapangan pun masih ditemui ketidaksesuaian karena agen Laku Pandai yang seharusnya menyebar ke pelosok justru terkonsentrasi di perkotaan yang notabene sudah memiliki infrastruktur layanan keuangan yang lebih baik.

Langkah besar untuk memacu literasi dan inklusi keuangan kembali ditempuh pemerintah dengan meluncurkan Strategi Nasional Keuangan Inklusif (SNKI) pada November 2016.

Presiden Joko Widodo telah meminta semua kementerian untuk mendukung program itu serta memerintahkan kepala daerah untuk mengikutinya. Presiden berharap SNKI dapat memacu kesejahteraan masyarakat.

SNKI juga digadang dapat memperkokoh stabilitas sistem keuangan serta pembangunan ekonomi nasional. Apalagi SNKI mengusung target tinggi yakni mendorong penetrasi sektor keuangan dan memenuhi target keterjangkauan sistem keuangan hingga 75% pada 2019.

Saya percaya kebijakan yang telah ditempuh itu bisa optimal jika dibarengi dengan kesadaran masyarakat sendiri selaku objek yang dituju. Terlepas dari preferensi masing-masing, masyarakat perlu ikut berperan, minimal dengan tidak bersikap resisten.

Semoga saja sejumlah langkah besar tersebut di atas dapat menghasilkan sesuatu yang besar pula.

Tulisan ini terbit di Harian Bisnis Indonesia Edisi 27 Desember 2016

Advertisements