Beradaptasi

by dalimun

Ada kawan mengeluh, katanya hidup di Jakarta beberapa tahun terakhir membuat bulu hidungnya makin lebat. Dia percaya polusi Jakarta yang kian gawat memicu respons otomatis dari tubuhnya, beradaptasi untuk menyaring debu-debu jahat agar tak mengganggu pernapasan.

Masuk akal juga. Namun, betul tidaknya mungkin perlu dicari kajian empirisnya, meski saya yakin tak banyak orang yang mau melakukannya. Yah, biarlah dia sendiri yang menafsirkan. Lagi pula masih untung bulu hidungnya hanya beradaptasi. Coba kalau sampai berevolusi seperti teori Charles Darwin, tidak terbayang hasilnya seperti apa.

Ngomong-ngomong soal adaptasi, di zaman sekarang ini orang harus pintar-pintar menyesuaikan diri. Beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang semakin cepat. Kalau tidak, waktu yang akan menggilas tanpa ampun.

Semangat macam begini seharusnya juga dimiliki pelaku usaha jasa keuangan ‘konvensional’ yang belakangan mulai diusik beragam start up financial technology alias fintech. Bak cendawan di musim hujan, fintech baru bermunculan. Kecil-kecil, tetapi banyak.

Adopsi Internet oleh masyarakat yang tak kalah hebat menjadi katalis pertumbuhan fintech di Indonesia. Kalau menurut data Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia, penetrasi Internet di Indonesia tahun ini hampir mencapai 40% dari populasi penduduk. Salah satu pemicunya ialah penggunaan ponsel pintar yang kian melebar.

Sampai September 2016, Otoritas Jasa Keuangan mencatat sedikitnya sudah ada 111 fintech di Indonesia. Skema bisnisnya pun beragam. Ada e-money, loan based crowd funding/lending, reward & donation based crowd funding, serta internet banking.

Biasanya orang mengajukan pinjaman ke bank atau multifinance perlu setumpuk berkas dan berkali-kali diinterogasi sales kredit. Itu pun kadang berakhir dramatis, ditolak di tengah harapan yang membuncah.

Bahkan untuk jumlah pinjaman yang mungkin tidak terlalu besar. Namun, sekarang ini, dengan layanan kredit online, tinggal klak-klik di komputer atau smartphone, kalau tak kebangetan amat, pinjaman segera cair.

Fintech memang tak melulu startup. Ada juga pelaku ‘konvensional’ yang kemudian ikut nimbrung. Namun, sebagian lainnya masih bertahan dan waswas bisnisnya bakal digerus startup fintech yang jangkauannya lebih superior karena mengandalkan jaringan Internet. Apalagi kondisi perekonomian yang penuh tantangan seperti sekarang ini membuat pelaku usaha harus puas dengan kinerja yang biasa-biasa saja.

Ini bukan persoalan baik atau buruk antara ‘konvensional’ dan ‘tech’. Semua tentang kesetaraan dan strategi dalam berbisnis. Lahan bisnis keduanya pun sebenarnya tak sama persis lantaran skala usaha yang belum sebanding, kendati menurut saya itu hanya soal waktu.

Kondisi itu sejatinya membuka peluang kerja sama bagi kedua pelaku. Misalnya dalam hal permodalan. Keterbatasan modal fintech bisa saja dipenuhi dari lembaga keuangan yang sudah lebih kuat, seperti bank maupun multifinance, tentu dengan itungan yang sama-sama enak. Bisa juga kerja sama terkait operasional. Intinya tak melulu soal persaingan.

Apalagi kehadiran fintech juga diharapkan dapat memangkas gap pembiayaan yang diperkirakan mencapai Rp1.000 triliun lantaran aksesibilitas masyarakat terhadap layanan jasa keuangan baru sekitar 60%, padahal kebutuhan pembiayaan secara nasional Rp1.600 triliun.

Regulasi jelas memainkan peran penting. OJK sudah tegas bakal mendukung perkembangan fintech dengan menyediakan aturan sebagai pedoman, sekaligus menjaga keselarasan dengan pelaku bisnis lain yang sudah lebih dulu ada.

Kendati demikian, tentu saja ada hal yang lebih penting dan wajib diperhatikan yakni perlindungan konsumen. Pelaku industri boleh jungkir balik berinovasi dan menelurkan produk keuangan yang canggih, tetapi tugas regulator memastikan semua itu berjalan di jalur yang benar. Bermanfaat bagi pelaku usaha, tanpa harus memangsa hak-hak konsumen. Selamat datang fintech.

Tulisan ini terbit di Harian Bisnis Indonesia Edisi 21 Oktober 2016

Advertisements