Pelit

by dalimun

Menurut kawan dekat saya, konon bankir-bankir sekarang ini sedang pelit bukan kepalang. “Sudah lama tidak ada undian berhadiah, tidak ada lagi hadiah macem-macem,” ujar kawan saya yang punya beraneka ragam buku tabungan itu, yang entah berapa saldonya.

Di masa seperti sekarang ini, mungkin wajar para bankir itu ‘pelit bin medit’ dalam menyusun kebijakan banknya. Biaya operasional dan segala macam beban harus terus ditekan demi pengiritan. Apalagi bank-bank besar yang apes kena pembatasan suku bunga deposito. Mau tak mau, hal remeh temeh, seperti kata kawan saya, ikut dicukur.

Di lain pihak, seretnya penghimpunan dana masyarakat khususnya deposito, juga membuat keran penyaluran kredit harus dipasangi filter biar tak mbleber ke sektor-sektor yang angsurannya sering telat.

Berdasarkan data Statistik Perbankan Indonesia, total dana pihak ketiga bank umum per Februari 2016 mencapai Rp4.437,51 triliun, atau tumbuh 6,86% year-on-year. Realisasi yang menurut bankir tak menggembirakan.

Mereka berujar kondisi itu terjadi karena adanya penurunan suku bunga simpanan khususnya deposito yang membuat orang berduit segan menitipkan dananya. Situasi tak menguntungkan itu juga diklaim terjadi lantaran minat masyarakat untuk ngutang tergolong biasa-biasa saja. Mungkin tidak keliru.

Statistik Perbankan Indonesia yang diterbitkan Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan per Februari 2016 undisbursed loan meningkat 8,35% secara tahunan dari Rp1.149,54 triliun menjadi Rp1.245,53 triliun.

Sementara itu, Survei Konsumen Bank Indonesia melaporkan pada Maret 2016 sejalan dengan melemahnya persepsi terhadap penghasilan, porsi tabungan terhadap pendapatan alias savings to income ratio turun 0,6% dari bulan sebelumnya menjadi 18,5%. Responden bahkan memperkirakan untuk enam bulan berikutnya, kenaikan jumlah tabungan dan posisi pinjaman bakal lebih rendah dibandingkan pada bulan sebelumnya.

Hal semacam ini seharusnya menjadi pertanda bagi bank untuk lebih berani mengucurkan kredit, termasuk memangkas suku bunga. Tentu tak bisa serampangan. Harus dilihat sektor yang potensial yang saya pikir tak kurang-kurang jumlahnya. Setidaknya dana masyarakat tidak mengendap, mampet.

Konsekuensi penurunan net interest margin (NIM) sudah sewajarnya dihadapi dengan cerdik, bukan pasrah. Kondisi yang ada memang memungkinkan hal itu terjadi. Itu pun masih lumayan tinggi di level regional. Apalagi beragam insentif telah disiapkan regulator dan diharapkan dapat mengompensasi tekanan semacam itu. Kalau insentif kurang, ya silakan ramai-ramai disampaikan ke regulator.

Jika diharuskan memilih satu cita-cita Kabinet Kerja dari sekian banyak yang ada, maka saya akan pilih kebijakan menurunkan suku bunga kredit single digit. Maklum, mewakili kaum yang akrab dengan UGD alias utang, gadai, dol (Bahasa Jawa artinya ‘jual’), saya merasa cita-cita semacam itu sungguh luhur.

Bunga sebiji angka sudah dirintis melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) meski tak semua bank terlibat.  Sungguh senang hati saya ketika seorang kawan nyerocos baru saja tembus KUR Rp20 juta buat menghidupi bengkelnya yang makin lama makin sumpek. Modalnya cuma BPKB motor bebek tahun 2000.

Rasa gembiranya tak terperi, karena menurutnya, utang Rp20 juta dengan bunga 9% lebih manusiawi ketimbang kredit Rp10 juta berbunga belasan persen yang pernah dia terima dari bank yang sama.

Sudah saatnya bank-bank lebih merakyat. Jangan rakus dan menggerogoti.  Memang benar bank harus terus berdaya saing dengan memacu kinerja alias memupuk laba. Apalagi sekarang era pasar bebas regional. Namun, bukankah mereka sendiri yang sering bilang kalau masyarakat di Indonesia ini sejatinya adalah pasar maha luas yang sangat menjanjikan?

Sudah sepatutnya peluang semacam itu dioptimalkan dengan strategi yang lebih halus dan visioner. Muliakanlah orang-orangmu, sebelum mereka dimuliakan orang lain.

Tulisan ini terbit di Harian Bisnis Indonesia Edisi 4 Mei 2016

Advertisements