Conquistador

by dalimun

Konon hanya dengan 168 orang pasukan, Francisco Pizarro berhasil menaklukkan Kekaisaran Inka di bawah ‘Sang Dewa Putra Matahari’, Atahualpa, yang memiliki 80.000 bala tentara.

Dalam pertempuran di Kota Cajamarca pada bulan November 1532, ribuan prajurit Inka tewas. Bahkan, Pizarro, bekas kapten salah satu kelompok militer Spanyol, berhasil menyandera Atahualpa hanya dalam waktu singkat setelah pertempuran terjadi.

Kaisar itu menjadi tawanan istimewa karena merupakan kunci untuk mengendalikan rakyat Inka yang kala itu sedang berjaya menguasai sisi barat Amerika Selatan, meliputi Argentina, Bolivia, Chile, Kolombia, Ekuador, dan Peru.

Selama ditawan Atahualpa pun diperlakukan istimewa. Makanan, pakaian, hingga hiburan disediakan. Rakyat Inca pun masih diperbolehkan mengabdi padanya dengan janji setia kepada penguasa Spanyol sebagai gantinya.

Pizarro bahkan menjanjikan kebebasan bagi Atahualpa asalkan mau menyerahkan kekayaan Inca kepada Spanyol. Tak tanggung-tanggung, lebih dari 20 ton emas dan perak dilebur, dan diserahkan ke Pizarro. Harta maha banyak itu pun lantas dikirim ke Spanyol dengan kapal menuju Sevilla.

Sayang, Pizarro tak menepati janjinya. Bukannya dibebaskan, Atahualpa justru dieksekusi, hanya delapan bulan setelah dia ditawan. Sejak saat itu, kolonialisme Spanyol pun semakin meluas di Amerika Selatan.

Kesuksesan Pizarro, yang lahir dan tumbuh di desa pinggiran Spanyol, Trujillo, itu seolah menjadi bukti betapa dahsyatnya kekuatan para conquistador (penakluk) dari Eropa. Keberanian dan kepintaran mereka bisa jadi berlebih. Namun, tak semua orang berpendapat demikian.

Jared Diamond, seorang profesor Amerika penulis buku Guns, Germs & Steel, percaya semua kualifikasi serupa juga dimiliki bangsa Inka. Menurutnya, kemenangan pasukan Pizarro bukanlah semata-mata karena keberanian dan kepintaran. Ada faktor eksternal bahkan tak kasatmata.

Bagi Diamond, faktor geografis sangat berperan. Dia mengatakan orang Eropa lebih dulu mendapat ‘berkah’ dengan kehadiran baja, pedang, bedil, hingga kuman! Semua hal itu membuat penaklukan lebih mudah.

Jangankan bedil, kuda tunggangan para prajurit Spanyol pun baru kali pertama dilihat bangsa Inka saat pertempuran di Kota Cajamarca. Padahal domestikasi kuda sudah dilakukan bangsa Spanyol 4.000 tahun sebelumnya.

Bahkan kuman pun, kata Diamond, punya peran sangat penting. Menurutnya, imunitas tubuh orang Eropa atas sejumlah penyakit terbentuk karena lingkungan geografis, sehingga kebanyakan dapat bertahan dari penyakit cacar yang mewabah kala itu. Berbeda dengan bangsa Inka yang tak punya ‘kuman penjaga’ serupa.

Apa yang diungkapkan Diamond agaknya tak berlebihan. Banyak bangsa di dunia ini yang tumbuh besar juga salah satunya karena faktor geografis. Bahkan tak sedikit bangsa yang akhirnya sepakat berkongsi dengan dilandasi faktor geografis.

Tak cuma soal wilayah, kongsi itu juga menjalar ke sendi-sendi lainnya, entah politik, keamanan, dan tentu saja ekonomi.

Terngiang dalam benak saya pelajaran sekolah dasar dulu, di mana Indonesia selalu digambarkan sebagai negara yang memiliki lokasi geografis sangat strategis. Terletak antara 6º LU – 11º LS dan 95º BT – 141º BT, dilalui garis khatulistiwa, berada di antara Benua Asia dan Australia serta antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia tentulah bukan posisi yang buruk.

Saya bersyukur kita punya musim hujan dan musim kemarau, tanah subur, yang membuat tanaman pangan mudah tumbuh meskipun kadang kurang, sedangkan janji swasembada tak kunjung jadi nyata.

Saya bersyukur banyak orang asing datang berniaga dan membuat pasar-pasar ramai, orang-orang punya uang, meskipun kadang justru lebih banyak membeli ketimbang menjual.

Saya pun bersyukur kerukukan selalu terjaga dengan orang-orang yang tinggal di seberang pulau, meskipun kadang kesulitan berjumpa sanak dan kerabatnya di daerah lain lantaran jalanan dan jalur transportasi tak kunjung dibangun.

Sungguh, sampai saat ini saya masih meyakini Indonesia adalah negara yang benar-benar ‘strategis’.

Tulisan ini terbit di Harian Bisnis Indonesia Edisi 23 September 2015

Advertisements