MAHBUB: Di DKI Jaya Ada Yang Jual “Roh”

by dalimun

Negeri Rusia itu gudangnya sastrawan kelas wahid. Di sana orang lebih kenal seorang novelis daripada menteri yang kepalang tanggung. Apalagi menteri muda – kalau misalnya ada – takkan digubris orang, seperti halnya penumpang oplet biasa. Mereka menganggap, biar kabinet kurang satu menteri, dunia masih akan tetap berputar pada asnya sebagaimana biasa. Tetapi kehilangan seorang novelis, arah dunia ini akan terhuyung-huyung. Baik Rusia sesudah Revolusi Oktober maupun sebelumnya. Para sastrawan senantiasa di atas angin, tidak turun-turun.

Di antara sekeranjang sastrawan itu, ada seorang yang menarik perhatian saya. Namanya Nikolai Gogol. Bukan tertarik sembarang tertarik. Saya merasa tertarik kepada Gogol, karena dia pernah menulis sebuah roman yang ganjil dan indah, berjudul Penjual-penjual Mayat. Pernah seorang sastrawan merangkap sebagai penerbit, Ajip Rosidi, meminta saya agar mau menerjemahkan roman ini karena dianggapnya saya ini punya gaya mirip-mirip Nikolai Gogol. Karena sedang “ogah-ogahan”, permintaan itu tidak saya gubris. Saya bilang, lebih baik saya bikin novel sendiri daripada menerjemahkan punya Nikolai Gogol. Apa susahnya sih, bikin novel? Beberapa waktu yang lampau kepada Ajip Rosidi sudah saya serahkan naskah novel saya itu. Entah kapan dicetak, saya tidak tahu. Kalau birokrat bisa jadi kapitalis, mengapa wartawan tidak bisa jadi novelis?

Dalam kaitan dengan roman Nikolai Gogol Penjual-penjual Mayat ini, di sini saya ingin menulis perihal yang mirip-mirip dengan itu. Kejadiannya bukan di Rusia yang jauh, melainkan di DKI Jaya. Yang dijual bukan sekadar “mayat”, melainkan lebih dahsyat daripada itu. Yang dijual itu ternyata bukan main-main, yakni “roh”. Apa dunia sudah gila, roh bisa laku terjual? Oh, bisa saja. Segala apa pun di Indonesia ini bisa dijual dan laku dijual. Jangan-jangan ijin pun bisa diperjuabelikan seperti kita memperdagangkan perkakas mobil. Bukankah bangsa Indonesia merupakan konsumen yang paling rakus di dunia?

Ceritanya begini. Semalam suntuk saya mempelajari baik-baik buku kenangan-kenangan Ali Sadikin selama dia jadi Gubernur DKI Jaya sebelas tahun. Buku itu judulnya agak genit, Gita Jaya. Tentu saja tidak seluruh buku itu sempat saya baca dan telan. Yang saya cari Cuma yang penting-pentingnya saja, setidaknya penting menurut pertimbangan saya sendiri. Yang saya cari itu tertulis ada 6 perusahaan daerah, ada 15 perusahaan patungan dengan swasta dalam negeri, ada 4 perusahaan yang dikelola sendiri, ada 13 perusahaan yang patungan dengan modal dalam negeri, dan ada sebanyak 14 perusahaan berbentuk otorita serta badan-badan usaha lainnya.

Yang saya cari malahan tidak tercantum di situ. Yaitu, sebuah perusahaan yang disebut PT Metro Mini. Apakah PT itu dibentuk sesudah Gubernur Ali Sadikin diganti Tjokropranolo? Bisa juga. Berhubung dalam buku genit Gita Jaya tidak terdapat hal-ihwal PT Metro Mini itu, maka apa yang terjadi dan sebangsa makhluk apa sebetulnya PT Metro Mini itu, gelap buat saya. Apakah PT Metro Mini itu perusahaan daerah? Apakah patungan dengan swasta? Atau, apakah sebangsa reptil? Serangga? Tidak jelas sama sekali. Padahal PT Metro Mini itu bukan alang-kepalang pentingnya. Dan barangkali juga bukan alang-kepalang banyak duitnya.

Apa sebab PT Metro Mini itu saya anggap sebangsa makhluk yang kurang jelas statusnya? Sebab begini. Teorinya, PT Metro Mini itu diberi hak wewenang dan Gubernur, entah gubernur yang mana, entah SK atau Perda yang mana, buat urus bis-bis ukuran mini yang banyak berseliweran di ibukota. Memang bagus bis mini ini, tidak bikin jalanan penuh sesak yang menyebabkan orang gampang tergencet sampai gepeng.

Konon, ada dua cara yang bisa ditempuh bagi mereka yang mau berkecimpung di sektor pengangkutan bis mini ini. Yang pertama jadi anggota lebih dulu, setor saham ke Metro Mini dan beli bisnya – entah lewat kredit KIK atau kredit biasa dari Bank Pembangunan Daerah – barulah kemudian mendapat izin trayek dari DLLAJR. Yang kedua, karena menurut teorinya izin untuk PT Metro Mini itu dianggap “sudah habis”, maka para peminat dipersilakan membeli “roh” para pemilik izin bis Robur atau bis yang pernah dipakai untuk keperluan Asian Games dulu, yang sudah bertahun-tahun nongkrong – bahkan sudah meninggal duna, bahkan tidak ketahuan lagi di mana kuburannya. Ihwal ke dua inilah yang paling ganjil, karena dengan demikian PT Metro Mini berarti menjual “roh”. Menjual sesuatu yang memang sudah tidak ada lagi di atas dunia ini. Ganjil tidak ganjil, begitulah praktiknya.

Atas dasar apa “roh” itu diperjualbelikan? Menurut keterangan pihak PT Metro Mini, ini bukan bisa-bisanya sendiri, bukan mau main akal-akalan, melainkan berdasarkan atas Surat Keputusan Gubernur juga. Gubernur yang mana? Surat Keputusan nomor berapa, tahun berapa? Apa maksud menjual “roh” itu? Mengapa tidak keluarkan saja peraturan yang lebih rasional sehingga tidak bikin bingung orang? Andaikata seorang peminat tidak bisa mencari di mana “roh” itu bertempat tinggal – tidak gampang lho, cari kediaman “roh” – maka baik pihak Metro Mini maupun pihak DLLAJR akan sudi berbaik hati memberi petunjuk, di pohon mana “roh” itu bisa ditemukan. Hingga pasaran “roh” yang berasal dari jasad bis Robur atau bis Fiat bekas Asian Games itu berkisar antara 500.000an rupiah.

Pemerintah yang pintar ialah pemerintah yang bisa cari duit. Itu hal yang normal. Tapi dalam soal cari duit ini sebaiknya dicari jalan yang agak bermutu, yang agak canggih, jangan tempuh jalan yang berbelit-belit dan ganjil. Yang biasa-biasa sajalah.

Pelita, 23 Januari 1981

*Tulisan ini diambil dari buku Humor Jurnalistik (1986) karya H. Mahbub Djunaidi.

Advertisements