Ubuntu oh Ubuntu…

by dalimun

Saya pernah menjadi pengguna Ubuntu yang bangga dan bahagia. Saya pun sampai saat ini masih menggunakan Crunchbang, saudara jauh Ubuntu, karena sama-sama lahir dari ibu yang sama, Debian. Saudara perempuan saya pun masih setia sebagai pengguna Ubuntu.

Tapi sejak Richard Stallman melontarkan pendapat soal pelanggaran privasi pengguna Ubuntu, saya mulai menaruh perhatian khusus pada perkembangan sistem operasi buatan Canonical ini.

Berikut cuplikan video Stallman tentang privasi dan Ubuntu yang diunggah di YouTube oleh pemilik akun muktware:

Video itu sempat menjadi perdebatan antara pendukung setia Ubuntu dan mereka yang peduli dengan privasi pengguna. Ubuntu Community Manager Jono Bacon pun sempat merespons tudingan Stallman melalui blog post-nya yang diunggah pada 7 Desember 2012. Meski kemudian diikuti dengan permintaan maaf karena sempat menyebut pernyataan Stallman “a bit childish”.

Saya pun sempat berdiskusi dengan sejumlah pegiat Ubuntu di Indonesia terkait masalah ini. Sebagai pengguna dan pecinta software open source, saya agak terganggu dengan perdebatan semacam itu. Dan seperti saya duga sebelumnya, jawaban sahabat-sahabat saya para pegiat Ubuntu itu pun bernada pembelaan pada Ubuntu.

Setelah diskusi itu saya pun memutuskan untuk tak lagi memusingkannya dan menganggap Ubuntu baik-baik saja. Tapi belakangan kediaman saya kembali terusik dengan kemunculan salah satu blog post milik staf Electronic Frointier Foundation (EFF), Micah Lee. EFF adalah salah satu organisasi yang cukup peduli dengan privasi online.

Micah Lee mengaku telah menerima email dari Canonical sehubungan dengan aktivitasnya sebagai pengelola website fixubuntu.com. Website tersebut berisi panduan bagi pengguna Ubuntu untuk menjaga privasi mereka dari pihak ketiga yang memiliki hubungan dengan Canonical.

Anda harus membaca blog post Micah Lee jika ingin memahami apa sebenarnya yang sedang saya bicarakan. Namun singkatnya, Micah mengaku mendapat peringatan dari Canonical terkait hal-hal yang termuat di fixbuntu.com. Peringatan itu disampaikan atas dasar Property Policy. Intinya, Canonical keberatan dengan penggunaan logo Ubuntu di website tersebut. Alasannya?

They may lead to confusion or the misunderstanding that your website is associated with Canonical or Ubuntu (potongan email dari Canonical yang diterima Micah).

Micah pun langsung merespons dengan bahasa yang menurut saya unik, lucu tapi juga lumayan keras. Dalam versi baru Diclaimer fixubuntu.com Micah menulis:

Disclaimer: In case you are either 1) a complete idiot; or 2) a lawyer; or 3) both, please be aware that this site is not affiliated with or approved by Canonical Limited. This site criticizes Canonical for certain privacy-invading features of Ubuntu and teaches users how to fix them. So, obviously, the site is not approved by Canonical. And our use of the trademarked term Ubuntu is plainly descriptive—it helps the public find this site and understand its message.

Tentu sebuah kesalahan jika saya sekonyong-konyong “menghakimi” Canonical dengan pendapat pribadi tanpa ada dasar fakta yang jelas. Sampai posting ini saya buat, belum ada respons resmi dari Canonical atas persoalan tersebut (meski diskusinya sudah masuk di berbagai forum dunia maya).

Yang jelas bahasan ini semakin membuat saya yakin bahwa masih banyak celah akan terjadinya pelanggaran privasi meski hidup di lingkungan “ideal” bernama open source. Sebagian orang mungkin tidak peduli dengan pelanggaran privasi di dunia maya, tapi bagi sebagian lainnya itu adalah hal yang sangat penting.

Ubuntu oh Ubuntu, i love you…

Advertisements