Sistem Operasi Cadangan

by dalimun

Tulisan ini untuk rekan-rekan saya sesama jurnalis yang masih mengandalkan PC dan laptop untuk bekerja. Saya berharap tulisan ini juga cukup relevan bagi mereka yang masih menggunakan sistem operasi bajakan :)

Beberapa hari ini saya lumayan antusias menjajal sejumlah distribusi GNU/Linux (Linux) portabel. Tujuan saya hanya satu, berjaga-jaga kalau sistem operasi utama di netbook saya tiba-tiba bermasalah.

Saat ini saya menggunakan Crunchbang di netbook. Lumayan sederhana (minimalis bagi Anda penganut minimalisme) meski fiturnya tak sesederhana tampilannya (namanya juga Linux) yang mengadopsi Openbox sebagai window manager. Silakan mengunjungi website-nya kalau Anda berminat menggali informasi lebih lanjut mengenai distribusi ini.

Bagi mereka yang kerap menggunakan laptop, netbook atau pc untuk keperluan standar kerja (mengetik, browsing, mengirim email, mengunduh) saya pikir Crunchbang layak dipertimbangkan. Pengoperasiannya juga tak begitu sulit (dibanding Slackware yang serba manual :) Tapi sejujurnya Slackware adalah distribusi favorit saya).

Kembali ke perihal sistem operasi portable. Bayangkan saat Anda harus segera mengetik perihal pekerjaan di laptop dan harus segera mengirimkannya ke rekan kerja atau atasan, namun tiba-tiba sistem operasi Anda (yang mudah-mudahan tidak bajakan) enggan booting. Meminjam laptop rekan lain mungkin bisa jadi solusi. Tapi bagaimana saat Anda sendiri atau sedang dalam perjalanan yang tak seorangpun dapat memberi pinjaman laptop, tablet, smartphone dan lainnya? Hanya ada laptop yang tak mau booting di depan Anda.

Kondisi hampir mirip juga kerap saya temui. Sejumlah rekan tiba-tiba stres berat, karena saat deadline memburu laptop mereka justru bermasalah (rata-rata karena virus atau gagal booting). Beberapa di antara mereka berhasil “terselamatkan” dengan meminjam netbook saya. Saya pernah menyarankan agar mereka mengganti sistem operasi bajakan dengan Linux saja. Ada yang mau, ada juga yang masih khawatir karena merasa belum biasa. Bagi saya itu tidak masalah, karena banyak juga rekan yang menggunakan OS proprietary resmi. Saya cukup mengapresiasi.

Tapi kembali saya hanya membayangkan bagaimana saat perangkat mereka tiba-tiba bermasalah lagi? Mau terus meminjam? Tidak. Saya pikir hal itu perlu diubah. Caranya? Selalu bawa sistem operasi cadangan. Linux portabel pun jadi salah satu solusi. Bisa menggunakan CD, bisa pula menggunakan USB Drive alias flashdisk. Ukuran file instalasinya tak begitu besar. Pengoperasian juga tidak begitu rumit, hanya tinggal mengatur urutan booting melalui BIOS, sehingga USB Drive atau CD ROM Drive akan diload pertama. Banyak tutorial di Internet yang bisa dicari melalui search engine. Hanya butuh membaca dan praktik.

Beberapa Linux portable yang sudah pernah saya coba antara lain Slitaz, DamnSmallLinux (DSL) dan Porteus (saat ini saya sedang mencoba LPS)  Masing-masing punya keunikan sendiri. Masih banyak yang lain yang bisa Anda temukan di Internet. Saya tidak akan menyarankan distribusi apa, karena sebaiknya memang sebaiknya dirasakan sendiri. Saran saya, cobalah unduh salah satu di website (pasti gratis dan sah, lhawong Linux :) Paling hanya tarif Internet), install di USB Drive dan coba booting. Bacalah beberapa dokumentasi yang disediakan dan praktikkan. Cari fitur yang paling cocok untuk membantu pekerjaan Anda dan cobalah bekerja dengannya.

Tidak selalu nyaman, salah satunya soal kecepatan karena kemampuan USB Drive yang ada saat ini berbeda dengan Hard Drive pada umumnya. Tapi untuk keperluan darurat masih lumayan layak. Beberapa distro portabel itu memberikan alternatif bagi pengguna untuk me-load sistem operasi ke RAM sehingga dapat berjalan lebih cepat.

Sekali lagi saran saya, cobalah sendiri. Kalau sudah, simpan USB Drive berisi Linux portabel itu dan bawa serta saat Anda bekerja apalagi ketika harus bepergian. Mudah-mudahan memang ada manfaatnya manakala Anda menemui masalah seperti di atas. Atau kalau Anda kebetulan bertemu saya, bolehlah meminjam USB Drive berisi Linux portabel, saya punya tiga yang biasanya selalu saya bawa :)

p.s: Saya tidak berani menjadikan tulisan ini sebagai panduan teknis apalagi step by step, karena pemahaman saya soal GNU/Linux sangat terbatas. Tapi paling tidak berdasar pengalaman yang saya alami, ada manfaat atas pilihan itu. Happy open source.

Advertisements