Proses

by dalimun

Log Off menulis: tentang ekspektasi dan pengetahuan, maka jika dikaitkan dengan hypermedia, hyperealita__dalam dunia yang dilipat oleh kecanggihan manusia dalam membuat percepatan, ketika itu, koalisi eropa mulai berfikir keras bagaimana mewujudkan pasar yang tidak memerlukan banyak tempat, uang kartal ditekuk oleh giro, ganti rupa menjadi seonggok mesin yang bisa menulis angka tanpa batas, setidaknya hanya dalam sekali pencet__terlihat juga, dalam ekspektasi masa depan yang dihadirkan bangsa lain ke dalam relung kekinian (kita dan bangsa ini), alchemy of finance, suara hati soros sang pelamun yang sukses menggulung apapun yang ada didepannya, tak peduli itu sebuah bangsa__bisa jadi soros bukan seorang yang “baik hati”__tapi ia adalah tukang proses ulung, yang lebih dahulu mendalami makna “uang” daripada “bank”__sedangkan, ekonom karbitan justru cuma punya kelesuan diantara dunia perbankan yang sama sekali tidak memahami arti uang dan kemakmuran, setidaknya begitu antrian janji yang tidak ditepati oleh renternir berdasi__bahkan soros membenci bank, jefferson sang presiden pun juga__dalam sistim yang rusak sebelum dipakai, bangsa ini masih saja dibodohi__sehingga, satu waktu lalu, dalam sebuah mobil yang berjalan ke arah timur jawa, berkata seorang sepuh “jangan..jangan…uang yang ada di world bank dan g20 itu punya kita…”__pak tua itu menerawang keluar, menembus jendela mobil yang ada tetes bulir gerimis__mungkin saja masih ada hujan kemakmuran kedua__hujan kemakmuran, yang lahir dari sebuah proses__lantas, (aku) membuat ingatan, bahwa luar biasa, bangsa ini disebagian besar lininya masih dikuasai cukong murah senyum..jika saja, yang pemarah dan turun ke jalan itu tahu yang sejatinya, bisa mungkin mereka akan terdiam, sembari menarik nafas panjang, mengurai apa yang dinamai ekpektasi, apa yang dinamai “pengetahuan”, boleh saja harapan sesekali hilang, namun jangan biarkan rasa kehilangan ikut mati bersama jerit yang pernah “kami” dengar dan saksikan__dimanakah starting kit sebuah proses? hal itu terletak pada jiwa yang hidup dalam rak juang, satu idelisme pembebasan yang jauh dari campur tangan egosentrisme tak bertuan__tidak bisa dibayangkan, jika para “ronin” itu bangun dan menagih janji kemakmuran, yang dahulu pernah dikerjakan bersama tuannya, yang telah terbunuh oleh politik amoral__namun sahabatku semua, proses adalah satu jalan menyusun dinamika, satu jalan yang terlintas diatas peperangan__yang perlu diketahui, jika kalian hanya mengandalkan otot dan mulut yang dipompa untuk berteriak, maka percayalah, kalian akan terbunuh oleh usaha yang kalian ciptakan sendiri ketika hendak mengawetkan dan memakmurkan kehidupan__proxy war bukanlah ketika antasena yang dengan potongan kepalanya bisa ngobrak abrik kurawa, sekarang adalah waktunya berhitung, sinergi otak-otot-dan strategi, bukan emosi yang tersulut iba dan empati yang salah__proses? kata itu wingit, setidaknya bagi orang seperti “kami” yang bodoh ini~ nuwun~

Advertisements