Mancing Duit Lewat Dunia Maya

by dalimun

Banyak motivator entrepreneur bilang modal bukanlah hambatan untuk memulai bisnis. Menurut mereka modal dalam bentuk duit bisa datang dari mana saja asal pebisnis kreatif mencarinya.

Motivasi itu bisa jadi benar adanya, lantaran di era booming ICT (information and communication technology) kekuatan berjejaring sangat besar. Internet menjadi tulang punggungnya. Bermodal proposal menjanjikan, calon entrepreneur bisa menjaring dana masyarakat melalui konsep crowdfunding.

Di Amerika Serikat Kickstarter.com adalah situs populer sebagai platform crowdfunding. Pebisnis tinggal memajang proposal dan meteri pendukung lain seperti demo produk dan jajaran manajemen untuk “menggoda” pembaca sehingga menginvestasikan dananya. Investor dijanjikan berbagai fasilitas dan bonus berdasarkan jumlah investasinya.

Pebisnis akan memasang target uang dan waktu crowdfunding mereka. Jika dana terkumpul sesuai target, proyek akan dijalankan. Tak sedikit produk-produk inovatif muncul dari Kickstarter, seperti printer 3D, perangkat elektronik canggih, hingga kendaraan angkasa!

Pertengahan bulan ini salah satu proposal pembuatan film Veronica Mars di Kickstarter berhasil memecahkan rekor lantaran berhasil menghimpun dana hingga US$2 juta hanya dalam waktu 12 jam saja. Padahal target yang dipasang hanya sebesar US$2 juta dengan sisa waktu masih sekitar 2 pekan.

Selain Kickstarter.com platform crowdfunding lain yang cukup terkenal adalah Indiegogo.com. Bahkan ada juga platform crowdfunding yang mengusung prinsip syariah seperti Shekra.com. Plaftorm yang diluncurkan tahun lalu itu menyasar pebisnis dan investor di kawasan Timur Tengah dan beberapa negara Asia. Salah satu platform crowdfunding baru Crowdtilt.com baru-baru ini bahkan mendapat kucuran dana US$12 juta untuk mengembangkan diri.

“Di luar negeri crowdfunding sudah ekosistemnya sudah matang sehingga lumayan mudah untuk menghimpun dana dari masyarakat melalui platform semacam itu,” ujar VP Business Development di Ideosource Andreas Ekoyuono kepada Bisnis, Senin (25/3/2013).

Dia mengatakan ada beberapa model pendanaan yang dikembangkan melalui platform crowdfunding yakni untuk pembelian produk dan untuk business venture yang akan dikembalikan hasilnya. Menurut Andrias model pertamalah yang kerap sukses diaplikasikan. Melalui model tersebut pebisnis layaknya menjual presale kepada pengunjung situs, sembari memberikan iming-iming sejumlah fasilitas dan bonus.

Meski begitu Andrias mengatakan model crowdfunding justru belum potensial di Indonesia. Masih ada sejumlah kendala yang dihadapi meski platform lokal untuk crowdfunding seperti Wujudkan.com dan Patungan.net sudah ada.

Menurut Andrias untuk mengembangkan model semacam itu di Indonesia masih lumayan berat lantaran pola pikir sebagian masyarakat. Pebisnis harus benar-benar mampu meyakinkan pembaca untuk menginvestasikan uangnya.

“Masyarakat Indonesia bisa saja invest, terbukti setiap charity act yang digelar media selalu ramai. Yang dibutuhkan itu adalah kredibilitas,” ujar dia. Padahal kredibitiltas terbentuk dari proses sementara tak sedikit pengusaha baru saja merintis bisnisnya sehingga belum banyak dikenal.

Dia tidak menampik, akses permodalan melalui crowdfunding di Indonesia justru lebih sulit ketimbang dari lembaga keuangan atau mitra lainnya. “Meyakinkan lebih banyak orang itu lebih sulit. Crowdfunding masih sangat muda di Indonesia,” imbuh dia.

Enrico Halim dari Patungan.net mengatakan crowdfunding di Indonesia memang belum sepesat di luar negeri. Konsep virtual yang harus dilalui calon investor kerap menjadi hambatan. Belum lagi mekanisme transfer dana yang masih terbatas. “Kami hadir tahun lalu, responsnya lumayan bagus meski belum tumbuh pesat,” kata dia.

Menurut dia ketentuan investasi diserahkan sepenuhnya kepada pemilik proposal. Tidak selalu bisnis namun juga berbagai kegiatan. Patungan.net akan memotong 5% dari total dana yang berhasil dihimpun setiap proyek. “Ini masih berbasis komunitas. Kami berharap ini bisa menjembatani pemilik ide inovatif dengan investor. Saya percaya di Indonesia akan tiba saatnya crowdfunding tumbuh besar,” pungkas dia.

Artikel ini dimuat di Bisnis Indonesia.

Advertisements