(me)Lawan Penggampangan…

by dalimun

Artikel ini diambil dari posting saya di Facebook 26 Januari 2013 serta tanggapan dari dua rekan saya. Berpendapat dan menghargai pendapat merangkak di tangga yang sama.

Post:

Ada sebuah lahan kosong tak jauh dari kantor saya. Meski berstatus kosong, hampir tak pernah ada kesunyian di lahan itu. Anak-anak bermain ke sana kemari dengan layang-layang di tangan, kadang juga dengan botol air mineral kosong yang entah apa gunanya. Namun yang jelas, selalu ada derai tawa di antara celoteh mereka. Barangkali karena momen semacam itulah orang lantas bilang bahagia itu sederhana. Tapi saya tak sependapat lantaran penilaian itu terlalu tergesa-gesa. Apakah bahagia itu hanya dinilai dari tawa di balik kepolosan? Atau benarkah mereka memang bahagia? Sungguh saya tidak mau berandai-andai. Menurut saya, bahagia itu rumit dan kompleks, tidak sesederhana momen-momen sekejap yang dianggap menyentuh hati. Tapi tentu saja setiap orang berhak punya penilaian sendiri. Tribute to all of my friends #SharingNotSelling

Tanggapan:

Nastiti Pamuji Tri (1) Ketika bahagiamu diukur dengan rumit dan kompleks, itu baru tataran pikiran, boi. Bahagia itu soal rasa. Kondisi apapun, ketika bisa menyentuh batin, lepas, ringan, mungkin disitu terselip bahagia. Bahagia ya bahagia saja, kadang tak butuh alasan untuk mencapainya.

(2) Memang, pada dasarnya bahagia sifatnya personal. Dan memang, bisa jadi tidak gampang merasakannya, pun saat orang menaruh perhatian pada lingkungan dan sosial.

Log Off (1) Log Off bagi yang merasa transenden, kebahagian sering ditafsir “apa anane dirasake, merga laku kuwi adile dilakoni”, namun babad psikologi jawa ala suryamentaraman ini juga bukan bahagia ideal bagi tataran imanensi, di sana ada yang lebih tinggi yakni ikhtiar penyelamatan, mikro dan makro dalam kosmik, saling menggeret dua rasa berbeda, menjadikan kebahagiaan justru disamarkan oleh dua keinginan, dalam kaca pemahaman rasa, khususnya asia timur, disana dalam hal terakhirnya dibekukan menjadi nir-rasa, tapi barat memiliki kata yang lebih tepat, yaitu numb, diantara pemikiran kedap suara tentang apa itu bahagia, yang lebih pasti bagi (ku) ialah tatkala kita selamat, menyelamatkan, minimal terselamatkan,…tapi lagi-lagi, cerdik cendekia masih saja keliru tafsir ketika memahami apa yg dipesankan mendiang djati supadjar, bahwa bagi manusia yang terminologi imannya masih dibumi akan menganggap terbenamnya matahari sebagai proses pergantian siang malam, namun bagi yang terminologi imannya sudah dilangit akan menganggap pergantian siang malam semu belaka, karena matahari tidak pernah tidak terang terus, dan mbah damar semoga juga tidak lupa bahwa empirian illahi juga menghadirkan nabi yang mulia sholallohu’alaihi wa sallam yang mutlak lebih pantas diikuti daripada renungan gaduk kuping pemikir pendatang yang menyandarkan kebenaran pada akal, yang menggunakan rasa sebagai timbangan keadilan,… kebahagiaan ideal adalah yang tersusun diatas manhaj haq, jika kebenaran menghalangi jalanmu, maka yakinlah bahwa kamu tengah berada di jalan yang salah,.)

Komentar saya: Log Off Mantap mas, aku mung pas krg sreg ae dgn praktik2 “penggampangan”

Log Off (2) setuju dik, jika kebahagian bisa didapat dengan mudah, atau gampang, maka apa artinya sabar? hal ini bukan soal materi, tapi jiwani dan ketundukan, simplifikasi kasus yang keliru berawal dari analisa yang salah, dan analisa yang salah bermula dari penggunaan definisi yang tidak tepat, tentang bahagia misalnya, seorang aquinas memprihatinkan sebuah negara agar menciptakan dua jenis kebahagiaan, bene vivere, yang bersifat tentatif duniawiah, dan selanjutnya adalah beate vivere, kebahagiaan abadi, namun dalam latar iman aquinas yang tidak terurus justru semua perspektif yang dihasilkan olehnya justru menjadi belatung bagi penerusnya, semisal magnis suseno, terang sekali ia menyatakan bahwa tidak boleh menyalahkan orang yang berpandangan 2+2=5, wah..kacau sekali jalan nalarnya, hal itu membuktikan bahwa begitu banyak, pada akhirnya definisi bahagia yang hanya berwujud pelangi, mengambang dilangit tak bisa membumi, karena bahagia yang diajarkan dewasa ini adalah kebahagian ilusi, yang terhasud oleh transendensi akal, sedang jauh sebelum kejatuhan eropa timur, disana manusia sudah digantung oleh kenyataan bahwa akal tidak bisa mencapai kematian, pecahlah dadaisme, kebahagian dipaksa berarti bebas tanpa kendali, hippies menjadi bentuk setan paling nyata sepanjang sejarah dunia ketiga~…lawan penggampangan~

Advertisements