Saat Bullying Merambah Dunia Maya…

by dalimun

Jika pengguna Internet mengetik kata “cyberbullying” di mesin pencari kemungkinan besar akan muncul penjelasannya dari website Wikipedia di halaman pertama. Masih di halaman pertama pula, tercantum sederet alamat website yang khusus menyerukan kampanye antipraktik bullying melalui teknologi interaktif itu. Salah satunya adalah situs milik Pemerintah Amerika Serikat, stopbullying.gov.

Saat menjelajahi kedua website di atas, pembaca akan menemukan penegasan bahaya bullying yang dilakukan melalui media cyber yakni sukar dihapus, berdurasi lama dan mudah dilakukan.

“Siapa saja sebenarnya berpotensi menjadi pelaku maupun korban bullying. Cyberbullying itu bahaya sama dengan bullying offline, bahkan bisa lebih karena bisa dilakukan kapanpun di manapun, sulit dihapus dan sulit dilacak karena pelakunya anonim,” ujar Pengajar Program Magister Psikologi Universitas Tarumanegara Roslina Verauli, di Jakarta, Rabu (20/2/2013).

Dia mengatakan perkembangan media sosial dan penggunaan aneka perangkat telekomunikasi mobile turut memberi andil pada kasus cyberbullying. Mengutip penelitian yang dilakukan Robert Tokunaga pada 2010, Vera menyebutkan setidaknya 20%-40% remaja di dunia pernah mengalami cyberbullying.

Dia menjelaskan bullying terjadi karena terdapat unsur tindakan agresif tidak diharapkan yang mencakup ketidakseimbangan kekuatan serta perulangan perilaku tersebut. Korban bullying offline, kata dia, juga berpotensi menjadi korban perilaku yang sama di dunia online. Tak hanya pada anak-anak, orang dewasa pun tak luput dari perilaku yang dapat memicu depresi pada korbannya itu.

Orang dengan kepripadian pasif dinilai rentan menjadi korban bullying. Orang dengan kondisi fisik berbeda atau lemah juga berpotensi menjadi korban bullying. “Secara personal seorang penyendiri dan penyesuaian renah juga rentan. Kalau orang dengan empati rendah, populer dan antisosial berpotensi menjadi pelaku bullying,” kata Vera.

Adapun dari sisi keluarga, pengasuhan yang over control dan over protected dinilai membuat anak berpotensi menjadi korban bullying. Sedangkan anak yang berasal dari keluarga berstatus sosial tinggi dimungkinkan menjadi pelaku bullying.

Untuk mencegah berkembangnya perilaku tersebut Vera menyarankan agar orang mengembangkan perilaku pro sosial dan empati. Dari situlah netiquete alias etika di dunia maya diharapkan akan muncul. Orangtua juga disarankan mengasuh anak dengan pola yang baik dan bukan pemaksaan.

Technology Can’t Solve
Cyberbullying diprediksi semakin mudah dilakukan seiring pertumbuhan generasi digital seperti saat ini. Selain penggunaan sosial media yang semakin masif, pertumbuhan pengguna ponsel cerdas juga dapat melancarkan bullying.

Dari data Asia Pasific Digital Marketing Year Book 2012 lalu, jumlah pengguna Facebook di Indonesia sudah mencapai 40 juta. Sebanyak 41% di antaranya adalah pengguna berusia 18-24 tahun, sementara sisanya adalah pengguna berusia 13-24 tahun.

Jumlah posting di Twitter yang dilakukan pengguna asal Indonesia setiap hari diperkirakan mencapai 1,29 juta tweet alias 15 tweet setiap detik. Dari jumlah itu 87% dilakukan melalui perangkat mobile.

“Itu adalah jumlah yang besar. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan dengan teknologi untuk mengatasi cyberbullying, tapi tidak sepenuhnya,” ujar Norton Internet Safety Advocate & Drector South Asia Norton by Symantec Effendy Ibrahim.

Dia menyebutkan saat ini terdapat berbagai produk software yang dapat digunakan orangtua untuk mengontrol secara mobile aktivitas anak-anaknya di dunia maya. Namun semua itu hanyalah pendukung dan tetap membutuhkan keterlibatan banyak pihak untuk mengatasi cyberbullying.

Effendi tidak menampik anak-anak adalah target yang sangat rentan terkena praktik cyberbullying. Dari data Norton Online Family Report 2011 lalu, sebanyak 78% anak-anak yang mengakses jaringan Internet pernah mengalami pengalaman buruk. Beberapa contohnya adalah tidak sengaja men-download virus, menerima gambar berisi konten kekerasan dan pornografi serta menerima permintaan pertemanan dari orang asing.

“Tiga dari 10 anak pernah menerima permintaan pertemanan dari orang asing. Saat ini orang tua harus menyadari ada sejumlah konten di Internet termasuk game yang tidak cocok untuk anak,” imbuh dia.

Dari hasil survei Ipsos tahun lalu juga diketahui satu dari delapan anak di Indonesia telah menjadi korban bullying di dunia maya. Selain memanfaatkan software filtering, juga Effendi menyarankan orangtua untuk mendampingi anaknya saat mengakses Internet. Dengan begitu perilaku anak dapat terkontrol serta dapat mencegah cyberbullying.

Tulisan ini dimuat di Bisnis Indonesia 21 Februari 2013

Advertisements