Matematika untuk Jurnalis (1)

by dalimun

Saat menyusun materi liputan menjadi berita, tak jarang jurnalis harus berkutat dengan perhitungan angka. Angka bukanlah hal yang harus dihindari. Bahkan dengan penyajian angka yang tepat, pembaca akan mudah memahami konteks berita yang ditulis. Namun tentu saja jurnalis bersangkutan juga harus paham dengan berita yang ia tulis termasuk angka yang ia sajikan.

Artikel ini disajikan sebagai panduan bagi jurnalis saat menghadapi kondisi tersebut. Artikel ini juga dimuat di website ajiyogya.com.Materi pertama yang akan dibahas adalah persentase.

– Anggaran kesehatan Pemerintah Kota Jogja tahun ini sebesar Rp50 miliar.

– Anggaran kesehatan Pemerintah Kota Jogja naik Rp2 miliar dari tahun lalu.

– Anggaran kesehatan Pemerintah Kota Jogja tahun ini sebesar Rp50 miliar, naik 4% dari tahun lalu.

Dari ketiga contoh kalimat di atas, mana yang lebih memudahkan pembaca memahami situasi? Kalimat terakhir tentu lebih mengena bagi pembaca. Mereka dengan cepat dapat memahami bahwa anggaran kesehatan -yang menjadi salah satu kebutuhan dasar setiap orang- hanya naik tipis tahun ini.

Gambaran umum signifikan dan tidak signifikan, dapat dijelaskan dengan persentase. Orang tentu akan menganggap kenaikan anggaran 65% adalah jumlah yang signifikan dan kemungkinan akan membawa dampak signifikan pula. Jurnalis perlu mempertimbangkan penggunaan persentase untuk mengubah angka menjadi konteks yang lebih mudah dipahami.

Berikut ini beberapa tips perhitungan persentase:

a. Konversi angka persen ke angka desimal dapat dilakukan dengan menggeser ke kiri dua baris dan menambahkan koma. Begitu pula konversi angka desimal ke angka persen dilakukan dengan menggeser ke kanan dua baris dan menambahkan tanda persen.

Contoh:

-15% sama dengan 0,15 angka desimal. [15%=15/100]

-0,25 sama dengan 25% [(25/100)x100=25%]

b. Untuk menghitung persentase tertentu dari angka tertentu, dilakukan dengan mengalikan keduanya.

Contoh: 64% dari 300 dihitung dengan cara (64/100)x300=192, sehingga, 64% dari 300 adalah 192.

c. Untuk menghitung nilai persen angka tertentu atas angka lain, dilakukan dengan membaginya.

Contoh: Berapa persenkah 30 dari 500? Perhitungannya adalah 30/500=0,06, hasilnya dikalikan seratus sehingga 30 adalah 6% dari 500.

d. Menghitung perubahan dalam persen dapat dilakukan dengan mengurangi angka akhir dengan angka awal dan membangi hasilnya dengan angka awal.

Contoh:

– Harga beras pekan lalu Rp6.500 per kg, sedangkan harga beras pekan ini Rp8.000 per kg. Berapa persen perubahannya?

Perhitungan: (8.000-6.500)/6.500=0,23 dikonversi ke bentuk persen menjadi 23%.

-Harga motor RX King produksi 1999 bulan lalu Rp9 juta, sedangkan harga motor yang sama bulan ini Rp7,5 juta. Berapa persen perubahannya?

Perhitungan:(7.500.000-9.000.000)/9.000.000=-0,167 dikonversi ke bentuk persen berarti harga motor bulan ini turun 16,7% dari bulan lalu (tanda minus bermakna terjadi penurunan)

e. Untuk mencari angka tertentu dari persentase perubahan yang sudah diketahui, dapat dilakukan dengan menambah atau mengurangi dengan perubahannya.

Contoh:

-Anggaran perawatan Benda Cagar Budaya (BCB) Pemda DIY tahun ini naik 35% dari tahun lalu yang “hanya” Rp50 miliar. Berapa anggaran perawatan BCB tahun ini?

Perhitungan:[(35/100)x50 miliar]=17,5 miliar, sehingga anggaran perawatan BCB tahun ini adalah Rp50 miliar + Rp17,5 miliar=Rp67,5 miliar. Jika perhitungan menghasilkan angka negatif, berarti mengurangi angka awal sehinga dapat dinyatakan terjadi penurunan.

-Harga kamera DSLR Nikon D3100 bulan ini Rp6,7 juta, naik 26% dari bulan lalu. Berapa harga kamera tersebut bulan lalu?

Perhitungan: (harga kamera bulan lalu x 0,26) + harga kamera bulan lalu=Rp6,7 juta. Untuk menyelesaikannya dapat menggunakan persamaan berikut ini

A = B / ( 1 + p)

A= angka awal

p= perubahan

B= angka akhir

Dalam contoh di atas, maka harga kamera bulan lalu adalah 6,7/(1 + 0,26) yakni Rp5,3 juta.

Perhatian! Sebaiknya jurnalis tidak tergesa-gesa menyimpulkan hanya dari perhitungan sekilas. Perhatikan contoh kasus berikut: Berdasar hasil jajak pendapat, dukungan suara untuk calon Gubernur DKI Jakarta Jokowi minggu ini naik menjadi 60% dari sebelumnya 50%. Tak sedikit jurnalis yang akan menulis, dukungan untuk Jokowi naik 10%. Benarkah? Jika dihitung lagi maka 10% dari 50 adalah 5, sehingga kenaikan hanya 55 bukan 60. Jadi sebaiknya berhati-hati saat membandingkan persentase dengan angka.

Demikian beberapa tips yang dapat menjadi rujukan jurnalis saat menulis berita yang berkaitan dengan angka dan persentase. Kita akan lanjutkan dengan materi lain pada artikel berikutnya. Semoga bermanfaat.

Rujukan: Livingstone, C. & Voakes, P. (2005). Working with Numbers and Statistics. US: Lawrence Erlbaum Associates, Inc.

Advertisements