Waspada di Musim Hujan

by dalimun

Hujan mengguyur sebagian wilayah DIY beberapa waktu belakangan. Prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) DIY akan datangnya musim hujan di akhir Oktober pun terbukti. Kondisi itu membuat sejumlah pihak khususnya petani bahagia. Namun, di sisi lain datangnya musim hujan juga membawa konsekuensi potensi kemunculan bencana alam.

Banjir lahar dingin dari Gunung Merapi melalui sejumlah sungai, longsor, serta angin puting beliung di daerah dengan topografi rendah kerap mengiringi musim hujan di DIY. Jauh hari BMKG DIY telah meminta masyarakat waspada. Menurut perhitungan mereka, selama peralihan musim, cuaca ekstrem yang ditandai dengan kemunculan angin kencang berpotensi terjadi dan memicu angin puting beliung. Kecepatan angin normal yang hanya mencapai 10 km per jam -15 km per jam berpotensi meningkat menjadi 40-45 km/jam.

Pada April lalu, angin puting beliung menerjang tiga kecamatan di Kabupaten Sleman yakni Mlati, Seyegan dan Tempel. Puluhan rumah rusak dan sejumlah orang terluka. Dua hari lalu di Kota Jogja sebuah pohon cemara di sisi utara Balaikota tumbang dan melukai dua pengendara motor yang tengah melintas. Meski tak menimbulkan korban jiwa, kejadian itu membuat sang pengendara motor harus dirawat di rumah sakit.

Kepala Bidang Keindahan Balai Lingkungan Hidup (BLH) Kota Jogja, Agus Tri Haryono mengakui, di wilayah Kota Jogja terdapat 47 pohon yang teridentifikasi tidak sehat dan perlu segera ditebang. Pohon-pohon itu di antaranya berada di Jalan Kusumanegara, Jalan Yos Sudarso, simpang Pengok, Jalan DI Panjaitan dan di sekitar Stadion Mandala Krida. Kondisi semacam itu juga terdapat di beberapa wilayah lain di DIY.

BMKG tentu memiliki dasar kuat sebelum menyampaikan prediksi dan peringatan mereka terkait perubahan cuaca dan beberapa risikonya. Menurut hemat kami, pemerintah dan masyarakat sudah selayaknya merespons secara bijaksana untuk mengantisipasi hal tersebut. Jika benar ada sejumlah pohon yang teridentifikasi membahayakan maka harus segera ditebang atau ditangani dengan solusi lain yang setara. Lingkaran birokrasi penanganan seharusnya juga tidak dipersulit. Pihak-pihak terkait harus aktif dan solutif demi mengamankan warganya tanpa harus berkeluh kesah atas kurangnya anggaran.

Inisiatif warga pun tak kalah penting. Kepekaan pada lingkungan di sekitarnya juga perlu ditingkatkan. Memangkas dahan pohon yang membahayakan, membersihkan parit atau selokan di sekeliling rumah adalah contoh tindakan sederhana namun cerdas. Tentu masih banyak hal lain yang dapat dilakukan masyarakat baik secara individual maupun kelompok. Hal terpenting adalah tindakan nyata bukan sekadar jadwal, rencana atau ide yang tak pernah terealisasi.

Kerusakan, kerugian hingga korban jiwa harus dicegah. Terlambat mengantisipasi sama halnya mempersilakan hal itu terjadi. Pemerintah juga harus menyiapkan strategi dan langkah nyata untuk mendukung keselamatan warga dan aset di wilayahnya. Mari sambut musim hujan dengan kewaspadaan.

Advertisements