Bersama Nguri-uri Bahasa Jawa

by dalimun

Sebuah video dari situs YouTube tiba-tiba menyeruak ke dalam ruang dialog sejumlah warga belakangan ini. Berisi kritik sosial atas penghapusan car free day di lingkungan Pemerintah Kota Jogja, video itu tampil menohok dengan judul lugas Ra Masalah Har!. Dalam waktu singkat, video beradegan kocak yang mengekor kesuksesan Gangnam Style ala Korea itu telah dilihat belasan ribu orang.

Video karya sembilan pemuda Jogja itu pun semakin klop dengan cita rasa Jogja karena dibawakan dengan Bahasa Jawa. Lantaran itu pula kritik yang disampaikan semakin mudah masuk ke telinga kebanyakan warga Jogja yang secara tak tertulis mengakui Bahasa Jawa sebagai bahasa ibu. Bagi mereka yang paham, lirik lagu  pada video tersebut adalah dialog sehari-hari dengan dialek dan aksen yang wajar.

Video atau karya berformat lain semacam itu bukan hanya sekali muncul. Tak sedikit orang maupun komunitas yang berekspresi dan menyuarakan aspirasi melalui sejumlah media, baik konvensional maupun kontemporer di bawah bendera akulturasi. Lagu-lagu rap milik G Tribe, gaya hiphop yang dibawakan Jogja HipHop Foundation serta sejumlah karya lain menjadi penanda Bahasa Jawa juga bisa tampil beda.

Terlepas dari cara, etika dan tujuan pembuatannya, menganggap Bahasa Jawa hanya pantas digunakan pada ranah tertentu dan patron mutlak, justru menjadikannya kerdil. Dari sudut pandang seni, akulturasi bukanlah hal tabu. Adapun budaya adalah hal yang muncul dan tenggelam. Banyak cara untuk nguri-nguri (melestarikan) Bahasa Jawa tanpa harus merunut pola yang sama. Isu yang berkembang di masyarakat semakin kompleks seiring perkembangan zaman dan dinamika kehidupan. Pendapat masyarakat pun semakin beragam. Tak elok kiranya membatasi dinamika itu hanya karena persoalan bahasa. Hal terpenting adalah kemanfaatan dan solusi positif yang muncul karenanya.

Sejumlah pemerintah kabupaten dan kota di Jogja mencoba merestorasi ke-Jawa-an melalui serangkaian kebijakan seperti penggunaan pakaian adat Jawa hingga penggunaan Bahasa Jawa. Begitu pula dengan penggunaan aksara Jawa pada sejumlah papan penunjuk jalan dan fasilitas publik lain. Hal itu juga pantasdiapresiasi sebagai bagian dari proses nguri-uri.

Bahasa Jawa bukan hanya milik dalang, penyanyi campursari dan sejumlah kelompok lainnya yang sudah lebih  dahulu dekat dengannya. Bahasa Jawa adalah milik masyarakat dan milik bangsa. Tak bijaksana hanya menggantungkan tugas nguri-uri yang sedemikian berat hanya pada kelompok tertentu.

Pelestariannya melalui berbagai praktik juga bukan ancaman pada nasionalisme. Sebaliknya, penghormatan pada kearifan lokal merupakan ciri positif bangsa yang mengakui Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyannya. Lebih dari itu, bahasa juga menjadi simbol khusus yang melengkapi status kesatuan. Bahasa Jawa adalah milik bangsa, mari ikut nguri-uri.

Advertisements