Mbok Sarni dan Penjajah

by dalimun

Soatoe tjerita jang betoel belon sebrapa lama terdjadi dalem kota ini.

Orang-orang di sekolah kasih tau saya negeri kita sudah merdeka sejak 1945, tampaknya belum lama. Orang-orang di kawedanan kasih tau saya negeri kita sudah punya arah kebijakan sendiri, punya konstitusi, punya alat yang lengkap untuk sekedar menyensus rakyat, tampaknya saya tak tersensus.

Mbok Sarni bilang penjajahan dari ujung jarik hingga ujung sarung masih terjadi. Malah penjajahan berkedok reproduksi, ya masih terjadi. Tak beda jauh dengan praktek concubinage yang dilegitimasi sejak 1617, tepat saat Sinyo anak mbok Sarni lahir.

”Pancen ketiwasan, ndak ratusan tahun lalu ndak sekarang, tetep wae jadi golongan mestizo. Meski sekolah sudah sampai di Berkeley, meski bokong sudah pernah duduk di bangku Sorbonne. Urip iki prasasat lara tan antuk jampi rak mekaten Pak Dalang,” seloroh mbo Sarni, cincing jarik, ngeblas nggandhok.

Advertisements