Manut Sing Tuku

by dalimun

Wardi celingukan begitu tiba di angkringan Pak Dhe Harjo. Sore itu tak seperti biasanya, dua ‘sedulur angkringnya’, Suto dan Noyo tak kelihatan batang hidungnya. Padahal biasanya mereka berdualah yang paling dulu ‘absen’ di angkringan Pak Dhe Harjo, ongkang-ongkang sambil nyeruput teh jahe, dan kadang mulutnya mecucu penuh bakwan atau mendoan. Hanya ada Lek No yang duduk di sebelah Pak Dhe Harjo, ngalamun sembari ngudhak kopi kenthel-nya.

“Suyono libur yo Pak Dhe?” seloroh Wardi menanyakan dua karibnya dengan menyebut nama alias Suto Noyo (Suyono). “Lha embuh, aku gak tau wong gak bilang aku. Biasanya lak ya sudah pating kriyek. Mungkin libur,” jawab Si Empunya angkringan.

“Libur opo pakdhe, orang mereka mbelot ke angkringan seberang jalan. Lihat onthel-nya itu,” oceh Lek No yang tiba-tiba tersadar dari lamunannya sembari nuding ke angkringan dengan terpal biru di ujung jalan tak jauh dari angkringan Pak Dhe Harjo. Tampak onthel Norto milik Suto diparkir bersanding dengan ‘jengki’ ijo pupus milik Noyo. “Wah iyo ki, jan terlalu mereka, ini namanya pengkhianatan,” ujar Wardi ndongkol langsung ngremus lombok rawit disusul mendoan.

“Benar Di, tega-teganya mereka pindah ke sana, baru dua hari angkringan itu buka. Padahal sudah berapa kali ngutang ke Pak Dhe, paling malah ada yang belum lunas,” sambung Lek No tak kalah ndongkol.

“Walah-walah cah, wong gur pindah mangan wae kok kalian pada ribut. Makan itu kan selera, manut sing tuku. Tidak sepantasnya diintervensi, Ya to?” kata Pak Dhe Harjo yang mulai ‘kumat’ rodho cerdas.

“Wah ya tidak bisa Dhe. Angkringan ki bukan hanya persoalan makan, tapi soal srawung, paseduluran, termasuk idealisme juga,” sanggah Wardi tak kalah ‘njlimet’, maklum mantan loper koran. Kali ini Lek No diam tak menimpali, dia masih bingung dengan beberapa kata yang barusan diucapkan kedua koleganya itu.

“Paling mereka cuma mau lihat anaknya bakul angkringan itu. Tadi aku ketemu pas beli gula pasir nggone Mbah Rejo. Manis bocahe, mungkin masih prawan,” terang Pak Dhe. “Yang bener Dhe? Walah pancen bocah loro ki tuna asmara kok,” kata Wardi dengan mulut mecucu terdesak mendoan.

“Tapi kok Pak Dhe santai-santai wae to? Wong ada saingan baru, harus bertindak,” giliran Lek No angkat bicara setelah merasa pembicaraan ‘aman’ tidak nyrempet-nyrempet bahasa ‘abot’. “Ya tidak perlu to No. Namanya sama-sama cari rezeki, tidak baik mateni rezeki orang. Wes to, kalau aku ki manut sing tuku wae lah,” timpal Pak Dhe sambil kluthak-kluthik nyuci gelas.

“Bola-bali kok gur manut sing tuku to Dhe,” protes Lek No.

“Lha gimana lagi, wong aku ki ya cuma bakul, menawarkan dagangan apa adanya. Kalau orang percaya dan tertarik mesti mereka beli, kalau aku tidak punya yang mereka mau pasti mereka cari di tempat lain yang ada. Yang panting aku terus inovasi. Gampang to?” ceramah Pak Dhe Harjo bijaksana mirip kalimatnya Semar Punokawan.

Lek No hanya geleng-geleng, perpaduan antara rak dong dan judeg. Pilih nyruput kopinya yang tinggal setengah.

“Seandainya Nurdin Halid ki bijaksana seperti Pak Dhe, mesti PSSI gak bakal ribut-ribut seperti sekarang ya? Legowo, tidak anti kompetitor dan tidak jegal-menjegal,” ujar Wardi nyambung-nyambungke, nggarapi Pak Dhe Harjo. Yang disebut pun hanya senyam-senyum.

“Lha bener to Dhe. Nek Nurdin Halid bijaksana seharusnya ikut apa maunya masyarakat. Katanya negara demokrasi, jangan selalu berkedok aturan-aturan yang masih samar untuk menjegal yang lain. Kalau gini terus sepakbola kita bisa amburadul. Ora ngurus main malah ngurus pemilihan ketua tok,” Wardi nyerocos dengan mimik serius.

“Anda benar saudara Wardi. Meminjam kalimatnya Pak Dhe, manut sing tuku wae lah,” timpal Lek No tiba-tiba, yang diiringi tawa ngakak ketiga manusia yang dipersatukan di bawah naungan terpal oranye itu.

“Lha kalau menurut Pak Dhe, asal ikut aturan tentu tidak akan ribut. Saling menghargai dan menyerahkan pada proses resmi pasti lancar. Sekarang tujuannya kan untuk memajukan sepakbola kita to, itu yang harus selalu diingat. Jangan hanya soal jabat-menjabat dan kekuasaan. Manut sing tuku yo oleh, ning nek iso ojo utang,” ujar Pak Dhe Harjo yang lagi-lagi diiringi derai tawa ketiganya.

“Jahe susu Pak Dhe,” kalimat Noyo yang tiba-tiba muncul bersama Suto sontak menghentikan ‘gaung’ tawa di angkringan Pak Dhe Harjo.

“Lah, koe Suyono. Akhirnya kembali ke khittah. Ngopo?” kata Wardi ketus sedikit kaget dengan kembalinya dua koleganya yang sempat menghilang.

Suto dan Noyo hanya cengar-cengir dan saling pandang. Berkata hampir bersamaan, “Neng kono ora oleh utang…”

Advertisements