Wahyu Rejeki The Prancing Horse

by dalimun

Siang itu cuaca cukup panas, meski tak menyurutkan orang-orang berlalu lalang di kawasan Malioboro. Puluhan andhong berjajar rapi di sepanjang jalan legendaris kota Jogja itu. Di salah satu sudut jalan, persis di depan Komplek Kepatihan, tampak seorang pria setengah tua tengah duduk sabar di atas andhong tuanya menunggu penumpang.

Ngadhek, nama pria itu, adalah satu dari puluhan bahkan ratusan penarik andhong yang masih bertahan dengan “kendaraan tradisonal” nya itu, sebagai sandaran hidup. “Saya sudah 20 tahunan jadi kusir andhong. Kalau melihat penghasilan ya pasti ndak cukup mas, karena orang selalu tidak puas. Tapi yang penting sabar dan berusaha,” jelasnya saat ditanya kenapa bisa bertahan selama itu menjadi kusir andhong.

Sambil sesekali tersenyum ramah, menyapa dan menawari wisatawan yang lewat, ia menceritakan bagaimana kesehariannya sebagai kusir andhong. “Dari rumah di Piyungan, sampai Jogja jam 10, nanti pulang jam 7 atau 8 malam,” paparnya. Dari sehari bekerja itu, ia mengaku mampu mengumpulkan uang rata-rata Rp20.000-25.000. Meskipun menurutnya untuk pakan kuda, setidaknya butuh Rp30.000 per hari. “Itu untuk beli dedhak dan rendheng 10 kilo,” timpalnya. Bebannya pun masih harus bertambah lagi ketika suatu waktu harus “service” andhong. Bayangkan saja untuk ganti papan selebor butuh Rp150 ribu, belum lagi untuk roda andhong, yang sepasangnya bisa sampai Rp2 juta.

“Ya memang hasilnya minus. Tapi syukur juga sekarang sedang musim ramai liburan, sehari saya bisa dapat Rp100.000,” tuturnya. Ia sendiri mengaku hasil narik andhong merupakan sandaran utama untuk menghidupi istri dan ketiga orang anaknya. Ia pun juga merasa terbantu dengan ikut paguyuban penarik andhong Gembiraloka yang diikutinya karena tersedia layanan simpan pinjam.

Menarik memang menyimak bagaimana Ngadhek dapat bertahan dan menghidupi keluarganya dari pekerjaannya sebagai penarik andhong. Seekor kuda yang diberinya nama Wahyu Rejeki, telah menjadi harta yang sangat berharga untuk diri dan keluarganya. Pikiran pun melayang ke “kuda” lainnya milik produsen otomotif luar negeri, Ferrari. Begitu terkenalnya simbol kuda hitam yang terkenal dengan julukan the prancing horse itu, hingga membuat orang-orang “kaya” tak segan mengeluarkan miliaran Rupiah uang hanya untuk sebuah mobil. Jelas prestise lebih dominan daripada fungsinya.

Terlepas dari semua itu, justru Wahyu Rejeki dan “kawan-kawannya” layak dinobatkan sebagai the prancing horse sebenarnya. Keberadaannya tak hanya sebagai simbol, tapi sudah berfungsi menjadi salah satu media utama bagi banyak keluarga penarik andhong, bahkan menjadi salah satu unsur budaya yang juga layak dilestarikan.

Advertisements