Lonely Long Night…..

by dalimun

01.15: Zzzzzzzzzzzz……Meet my lovely person in dream.

00.01: Late night, masih setia di depan monitor, nyasar ke idx, segotiwul dan mas google. Mainkan keyboard bertempo adagio dengan nada dasar A (Asal….maklum lampu mati semua, hemat listrik). Terlalu manis Slank, titip rindu buat ayah Mas Ebiet, zoot allures Frank Zappa, 3 little birds Om Marley, Canon D accoustic ????, blues solo Jody, little wings Hendrix, scuttle buttin’ Vaughan, let it rain Paman Clapton…bergantian bernyanyi eksklusif untukku saja, sudah hampir satu jam. Segotiwulku hampir tersaji. Malam panjang tak sepanjang kesendirianku. Tercebur dalam rutinitas, hanyut dalam perjuangan, tenggelam dalam tenggat waktu.

23.05: Bingung juga mo ngapain. Badan agak capek, ngantuk juga, tapi ga ah belum enak juga untuk tidur. Sepi, hanya ada 3 nyawa yang kulihat sibuk masing-masing. TV nyala, channel news berkoar. Penyitaan minuman beralkohol impor. Wah pas banget nih, kebetulan rencana juga ambil angle itu. Sasaran telah ditentukan, laporan keuangan ada, nomor kontak juga sudah ada, tinggal berdoa besok narasumber mau bicara, selanjutnya biar mas google yang bekerja. Berita selesai, coba ganti saluran. Film “King Kong” yang sejak tadi diputar juga belum selesai-selesai. Dah pernah nonton sih, tapi tak apalah, toh aktrisnya cukup cantik. Terbayang-bayang King Kong, si beruk yang kelebihan hormon pertumbuhan, menderita gigantisme akut. Ironis sekali, binatang saja kesejahteraannya melebihi manusia (entah di belahan dunia mana, tapi ga usah jauh-jauh nyari….?????) Jadi ingat di sebuah negara melayu, boro-boro gigantisme, tumbuh normal saja sullit (double L…..sangat!!!) manusia-manusia tak berdaging, kering kerontang, lupa makan atau karena tak ada makanan? setahuku negara tersebut gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo. Bahkan bayi-bayi yang seharusnya manis, lucu, menggemaskan dengan pipi chubby, banyak yang tergeletak dengan jalur-jalur infus penyambung nyawa..!!!! Beratnyapun hampir sama dengan gula pasir yang tiap bulan ku beli. Oh Tuhan. Engkaulah Sang Bijaksana, apa memang sengaja hipofisis mereka Engkau cabut? atau ada orang lain yang mengambil paksa? Ada yang salah? salah siapa? bunda mengandung? retoris. Rakyat hidup di suatu negara patuh pada negara, bayar pajak pula, berharap negara membalas kepercayaan dengan kesejahteraan (atau tausahlah muluk-muluk dulu, hidup normal atau sedikit kurang saja sudah cukup bagus)…. but where did they go? di mana kepercayaan itu sekarang? Apakah negara “itu” telah lupa batas-batas teritorialnya? sehingga sudut-sudut timur, barat, utara, selatan, dari titik tengah, dilupakan begitu saja hanya karena terhalang semak atau ilalang semata? Karena sesungguhnya kehidupan di balik semak ini lah ajang pembuktian janji “anda sekalian”. Wah jadi inget dulu liputan. Ke Senayan di suatu gedung megah, tapi gara-gara kurang informasi (malu juga sih, tapi tak apa orang baru ini…he), semua jadi sia-sia. Pembesar-pembesar sedang pulang kampung. Ngurus “keluarga” masing-masing. Tapi keluarga yang mana ya? keluarga tiap 5 tahun sekali saja, atau keluarga…..eee…ya keluarga lah…..he he. Tak usah tunggu lebaran, THR keluar, mudik jadi nyaman…..(hampir 20 kali lipat gajiku nih…sama-sama 1 bulan “kerja”). Cabut ke kantor……nyalain komputer, cari inspirasi tuangkan cerita dalam kopi pahit, jelas tanpa tanpa gula.

21.46: Sampai di rumah loteng tercinta. Perjalanan “panjang” dari Fatmawati-Plasa Semanggi-Pancoran-Blok M-Fatmawati plus hujan deras seakan tak berasa apa-apa. Perjalanan yang cukup mengasyikkan karena kemacetan, 10 km/jam, tiap 5 meter berhenti, bahkan kadang tak beranjak hampir 20 menit lamanya… semua berasa biasa saja, jadi seperti safari jalan raya. Entah kenapa hari ini semua seperti “tak berasa”. Hari ini sedikit santai walau hanya beberapa jam saja, karena sebenarnya pikiran masih melayang-layang ke segala penjuru, mencari celah yang bernilai kabar. Tapi lumayan lah masih lebih tenang tak ada agenda liputan juga tanpa deadline.

18.31: Tiba di tujuan, senyum cerah membawa canda karena lama tak sua (padahal cuma 1 minggu saja….????) Biarlah tak mengapa, asal bahagia serasa di rumah. Sedikit tak enak karena cuaca telah membuatnya lemah. Kasihan juga. Kesana kemari lisan tak jelas (semoga bisa membuatmu ceria ya). Coba makan ala barat, tapi…bah nampaknya lidah jowo tak kan bisa dibohongi..apa lagi perut masih saja protes “belum kebagian subsidi beras”. Jalan-jalan keluar lirik sana-sini barangkali ada jenis makanan dengan komposisi oryza sativa, biarlah tanpa label SNI atau Expired Date sekalipun. We all Indonesian Trust On You !!!! but sometimes their hand power force us to “hate” you. Koki-koki baru dadakan mulai muncul, meracik resep-resep baru. Cukup mewah sekali namanya walau dengan bahan sederhana. Bagi peserta paksa wisata kuliner ini, ada 2 yang cukup nikmat: ada aking yang lagi nge-trend, ada juga tiwul yang sudah lama melegenda. Kata mereka sih cukup enak hingga hampir tiap hari tak pernah ganti menu. Mau tau bahan utamanya? Beras subsidi a.k.a raskin + krikil + kutu beras. Tapi maaf, sekarang harganya sangat mahal bisa jadi harus ditukar dengan nyawa. Mencarinya pun susah minta ampun, karena biasanya banyak tertumpuk di gudang-gudang orang berwenang, dan terkunci rapat, rapat sekali. Say goodbye, “udah dulu ya, aku pulang takut kemaleman, lagian kamu juga kan mesti istirahat, biar sehat lagi” smile.

17.25an: Plasa Semanggi mana? perdana kehujanan, lupa kalau tas ya memang tas, dan bukan payung. Ini di jalan raya apa di pantai ya? kok asyik gini, seashore wave tiap kopaja melintas. Langkah pasti tanpa rencana pasti. Ingat-ingat, dulu pernah ke sini lewat mana, pintu yang mana, tapi tetep harus sok cool biar ga punya duit juga. Waduh ko malah jadi inget kerjaan, yah apes. Mau tak mau kebayang lagi angle-angle yang semua pasti ada angkanya (idx.co.id-thanks for your existence). Tak sadar melangkah jauh ke rak buku ekonomi, comot 1, bayar. Tahan nafsu penuhi tas belanja. Minggu depan masih bisa man….(sedih juga ya….apa harus lapor AJI/PWI? ah tak usahlah).

15.30an: Wah, ketiduran….gawat. Puanasnya minta ampun, kipas nyala, sejuk serasa di JW Marriot. Teringat komplek food court jalanan, di pintu masuk hotel. Bos-bos restoran gerobak asyik meeting di “tambal ban room”, dengan peluh menetes karena panas, dan sesekali menyekanya dengan tangan. Bertahan paling tidak 10 jam mengumpulkan lembaran rupiah. Makin hitam badan makin banyak rejeki. Itu barang kali jargon mereka. Di dalam di lantai dua hotel, manusia-manusia berjas tebal kedinginan. Kopi panas dan acessoriesnya plus makanan “kecil” yang aku yakin harganya lebih mahal dari penghasilan 1 minggu tukang bajaj.Kontras!!! Dah ah, cepet-cepet mandi, dandan (cie…gaya banget), sholat (ingat pada Tuhan akan membawa kita pada kebesaran hati dan merasa cukup…serius). Rintik hujan menyapa, 76 Ciputat-Senen on the way. Kisah Cintaku, Chrisye menitis pada pengamen jalanan. Jadi inget kampung. Tunggu aku ya…..

09.12-14.46: November, 29th 2008. Hari yang membingungkan, menanti kabar tak kunjung jelas. Harusnya jadi momen bersejarah, tapi nampaknya akan tertunda. Biarlah yang penting agenda hari ini membahagiakan.

Advertisements